Selasa, 23 November 2010

Infark Miokard Akut

Infark Miokard Akut merupakan salah satu diagnosa yang sering didapatkan pada penderita yang datang ke Rumah Sakit dan merupakan penyebab kematian. Tujuan utama pengobatan infark miokard akut adalah menjaga keseimbangan suplai oksigen dan kebutuhan oksigen, mengembalikan iskemia miokard, membatasi luasnya infark dan menurunkian kematian. Semakin cepat dilakukan reperfusi akan menghaslkan penurunan resiko kematian dan kerusakan miokard.

Manifestasi Klinis Penyakit Jantung Koroner

Penyakit jantung koroner dalam kondisi akut yang biasa disebut sindroma koroner akut atau pada kondisi kronik sebagai manifestasi angina stabil kronik. Sindroma koroner akut dideskripsikan sebagai spektrum klinis yang meliputi angina tidak stabil, infark miokard akut non Q (biasanya tanpa segmen ST elevasi), infark miokard Q (biasanya dengan segmen ST elevasi). Angina tidak stabil dan infark non Q tampak hampir sama akan tetapi dengan ketersediaan test enzim jantung akhirnya dapat membedakan kedua kondisi tersebut. Gejala pada penderita PJK yaitu sakit dada yang spesifik. Pada kondisi akut dapat disertai keluhan mual, muntah, keringat dingin dan berdebar-debar (aritmia). Pada kondisi akut dapat disertai gagal jantung, odema paru dan syok kardiogenik mempunyai prognosis jelek.  

Patogenesis Trombus Pada Infark Miokard Akut (IMA)

Ruptur plak merupakan awal proses utama terjadinya IMA. Oklusi total seringkali terjadi secara mendadak dari stenosis yang minimal. Dua pertiga kasus ruptur plak terjadi pada lesi stenosis dibawah 50% sedangkan 97% terjadi pada lesi stenosis dibawah 70%.

Plak yang akan mengalami ruptur mempunyai karakteristik :
  • Mempunyai lipid-rich core yang besar (>40% volume plak)
  • Fibrous cap tipis dengan sedikit kolagen, glikosaminoglikan dan matrix-synthesizing Smooth Muscle Cell (SMC)
  • Peningkatan neovaskularisasi
  • Infiltrasi sel peradangan aktif pada cap yang tipis

Trombosis lokal terjadi setelah gangguan plak yang terjadi olah karena interaksi lipid core, smooth muscle cells (SMC), makrofag dan kolagen. Lipid core merupakan bahan yang paling penting untuk formasi trombus platelet rich dan bersama smooth muscle dan sel foam akan berhubungan dengan ekspresi faktor jaringan. Setelah terekspose dalam darah maka akan terjadi interaksi faktor jaringan dengan faktor VIIa yang menginisiasi kaskade reaksi enzimatik membentuk trombin dan deposisi fibrin. Karena adanya keseimbangan antra trombosis dan trombolisis endogen maka apada beberapa kasus terjadi perbaikan lesi vaskular.

Respon terhadap gangguan endotel mengakibatkan terjadi agregasi platelet, vasokonstriksi dan pembentukan trombus. Trombosit tidak akan melekat pada endotel pembuluh darah yang intak. Kolagen sebagai agonis trombosit berada pada plak dan subendotel. Von willebrand adalah protein adesif yang berada pada plasma menyebabkan trombosit yang tidak aktif dapat melekat pada endotel. Kejadian ini merupakan proses awal dalam formasi trombus yang dipacu oleh von willebrand pada glikoprotein I B trombosit. Adesi trombosit akan diikuti aktivasi trombosit. Beberapa produk trombosit meliputi ADP, serotonin dan TX A2 sebagai pemacu aktivasi trombosit, vasokontriksi dan proliferasi neointimal.

ADP berada pada granul intraselular dan dilepas pada waktu tombosit distimulasi oleh molekul adesi atau agen proagregasi. ADP yang beredar akan merangsang aktivasi ikatan fibrinogen-GP IIb/IIIa. Agregasi trombosit merupakan stadium terakhir pada pembentukan trombus. Aktivasi trombin oleh beberapa agonis mengubah GP IIb/IIIa menjadi bentuk yang mampu berinteraksi dengan protein adesif plasma (fibrinogen dan von willebrand). Aktivasi pada trombosit baru akan menyebabkan membesarnya trombus yang akan menutup lumen pembuluh darah.

Faktor Resiko Infark Miokard Akut (IMA)

Faktor resiko yang paling berperan di Indonesia saat ini antara lain :
  1. Hipertensi
  2. Kadar kolesterol dan lemak darah yang tinggi
  3. Kebiasaan merokok
  4. Kelebihan berat badan 
  5. Kurang giat bergerak atau olahraga
  6. Diabetes mellitus
  7. Ketagangan pikiran atau stres serta berkepribadian A
  8. Faktor keturunan

Oleh karena itu, faktor resiko diatas perlu dicari melalui medical check-up (pemeriksaan berkala) dan kemudian dikendalikan mulai tanpa obat kalau tidak berhasil dengan obat. 


    Magnetic Resonance Imaging (MRI) Jantung

    Magnetic Resonance Imaging (MRI) jantung menggunakan magnet dan gelombang radio untuk memindai jantung dan menghasilkan gambar atau foto jantung. MRI tidak menggunakan radiasi seperti jenis pemeriksaan radiologi lainnya dan tidak memiliki efek merugikan jangka panjang. MRI perfusi stres jantung menggunakan suntikan media kontras selama pemindaian. Kontras masuk ke otot jantung di daerah yang menerima suplai darah yang baik. Pada daerah yang relatif aliran darahnya kurang tidak terdapat kontras, yang bisa menjadi indikator penyakit jantung iskemik. Aliran darah (perfusi) ke jantung dinilai baik pada istirahat dan pada waktu dilakukan stres test. Stres test dilakukan dengan suntikan obat yang disebut adenosin. Obat ini memiliki efek pada jantung seperti latihan fisik dan kontras yang telah disuntikkan dapat memperlihatkan bagian dari otot jantung yang tidak menerima pasokan darah yang memadai. Setelah itu tes ini dilakukan tanpa adenosin dan dibandingkan dengan gambar yang dilakukan stres test. Informasi ini membantu dalam mengidentifikasi adanya iskemia dan dapat menunjukkan pembuluh darah yang menyebabkan masalah dengan akurat.

    Persiapan MRI Stres perfusi jantung 
    • Menghindari Kafein selama 24 jam sampai 48 jam sebelum pemeriksaan. Kafein mengganggu pemberian adenosin di hati
    • Berpuasa selama 4 jam
    • mengisi kuesioner sebelum pemeriksaan untuk memastikan aman bagi pasien untuk masuk mesin MRI
    • Melakukan tes darah serum kreatinin dan BUN
     Yang dilakukan selama MRI Stres perfusi jantung
    • Memakai pakaian yang disediakan. Hal ini untuk menghindari benda logam yang dapat mengganggu magnet dan untuk memungkinkan akses yang mudah untuk memasang elektroda pada dada untuk memonitor detak jantung
    • Berbaring di tempat tidur pemindai 
    • Dilatih untuk melakukan pemindaian MRI
    • Lead untuk memantau denyut jantung kemudian akan ditempatkan pada dada
    • Jika suntikan kontras media (gadolinium chelate) diperlukan, dipasang IV line d tangan kiri dan kanan
    • Dipasang koil di daerah dada yang bekerja dengan magnet utama untuk menerima sinyal gelombang radio untuk menghasilkan gambar.
    • Setelah siap, akan ditempatkan di dalam mesin MRI yang seperti terowongan pendek. Akan ada suara bersenandung dan suara mengetuk teradi di sekitar yang menunjukkan baha scanner sedang berjalan. Biasanya merasa sedikit hangat selama pemindaian
    •  Pasien akan diminta untuk menahan napas dari waktu ke waktu selama scan untuk membantu menghasilkan gambar yang terbaik
    • Mesin MRI bising, sehinga pasien dipasang headphone dan dapat mendengarkan musik dan berbicara dengan petugas radiografer selama melakukan scan. Pasien juga akan diberi tombol bel selama pemindaian. menekan tombol bel akan membuat radiografer mengetahui bahwa pasien ingin berbicara. Sebuah mikrofon terletak di dalam mesn MRI.
    • Setelah pasien merasa nyaman, radiografer akan kembali ke konsol kontrol, meninggalkan pasien dalam mesin MRI. Dari sini radiorafer akan mengontol scanner untuk menscan bagian jantung
    • Suntikan kontras dan adenosin akan diberikan selama pemindaian untuk pemeriksaan perfusi jantung. Pada waktu disuntik adenosin akan terasa tidak enak di daerah dada dan wajah. Efek ini singkat dan biasanya segera berakhir setelah suntikan diberikan.
    Resiko dari MRI Stres Perfusi Jantung
    •  Tidak ada resiko yag berarti dari mesin MRI. Kebanyakan orang biasanya tidak ada masalah kecuali yang menggunakan implan atau peralatan seperti alat pacu jantung.
    • Ada resiko yang sangat kecil dari reaksi alergi yang terkait dengan konras medium (gadolinium chelate)
    • Adenosin diberikan selama stres test. Namun obat ini dapat memiliki efek samping yang lebih serius termasuk : nyeri dada, badan terasa hangat, bedebar-debar, dan kadang terasa sesak.
    Manfaat dari MRI Stres Perfusi Jantung 
    •  MRI menghindari paparan radiasi (X-ray). Hal ini sangat bermanfaat bagi pasien yang harus dilakukan evaluasi secara berulang
    • MRI mempunyai kelebihan dibandingkan sinar-X dalam kemampuan menampilkan gambar secara khusus untuk menunjukkan anatomi yang kompleks. Mampu untuk menganalisa aliran dara melalui pembuluh darah dan di dalam ruang jantung. Gambar yang kabur karena gerakan jantung dan pembuluh darah dapat diatasi
    • MRI perfusi dapat memberikan informasi penting mengenai bagian otot jantung dengan suplai darah yang tidak memadai dan dapat menentukan otot jantung masih hidup atau tidak. Ini dapat digunakan untuk memandu pengobatan. 
    Indikasi MRI Jantung
    • Mengukur fungsi ventrikel kiri dan kanan : 
              1. Kardiomiopati
              2. Gagal jantung
              3. Arythmogenic right ventricular dysplasia  (ARVD)
              4. Hipertensi pulmonal

    •   Evaluasi anatomi jantung
              1. Perikarditis konstriktif
              2. Tumor dan thrombus jantung
              3. Penyakit jantung bawaan (kongenital)
              4. Patent Foramen Ovale (PFO)
    •  Perfusi otot jantung (miokard) : Penyakit jantung koroner
    • Mengevaluasi myocardial scar/viability
             1. Identifikasi miokard yang hibernating sebelum revaskularisasi
             2. Identifikasi kardiomiopati dari miokarditis kronis

    • MRA oroner : anomali arteri koroner
    • Mengukur aliran darah
             1. Penyakit katub jantung (misal aorta regurgitasi, mitral regurgitasi, aorta stenosis, mitral stenosis, dll)
             2. Evaluasi Shunts  ASD, VSD, dan PDA

    • Pertimbangan khusus lainnya :
             1. Pasien yang tidak kandidat echocardiography (window echo jelek)
             2. Pasien yang tidak kandidat pemeriksaan nuklir jantung (obesitas, payudara besar, wanita, bdn kecil)
             3. Pasien tidak mau diperiksa prosedur invasif (TEE, kateterisasi jantung)
             4. Pasien yang menginginkan diperiksa lengkap

    Jenis Pemeriksaan MRI Jantung
    • MRA coronary
    • Perfusion study
    • Viability study
    • Dobutamine stres MRI
    • ARVD study
    • MRA
    • Function study
    • Congenital Heart study